Benteng Tertua Eropa, Carcassonne

Benteng Tertua Eropa, Carcassonne

15 Desember 2020 0 By admin

KOTA CARCASSONNE berjarak sekitar 90 km dari kota Toulouse, Prancis Selatan. Menaiki bus, melewati kebun-kebun anggur dan gandum di kiri kanan jalan bebas hambatan, waktu berlalu selama hampir dua jam di perjalanan hingga tiba di kota berpenduduk sekitar 50-an ribu jiwa ini.Carcassonne berada di jantung segitiga Toulouse-Montpellier-Barcelona, di persilangan dua jalur utama lalu lintas masa lalu dari Atlantik ke Mediterania, dan dari Cévennes ke gunung Pyrénées.

Kekhalifahan Umayyah mengalahkan Visigoth dan menguasai Carcassonne.

Kota ini memiliki sejarah panjang. Tanda-tanda permukiman pertama di wilayah ini sekitar 3.500 SM. Namun, Carcassonne diidentifikasi secara strategis saat Romawi memperkuat puncak bukit ini sekitar 100 SM. Benteng dari zaman Gallo-Romawi itu, pada tahun 462 dalam kekuasaan Raja Visigothik, Theodoric II.

Pada awal 700-an, Kekhalifahan Umayyah mengalahkan Visigoth dan menguasai Carcassonne. Pasukan di bawah komando panglima Musa bin Nushair ini terus masuk ke jantung Perancis hingga akhirnya dikalahkan Charles Martel di pertempuran Poitiers. Pasukan Islam dipaksa mundur meninggalkan daratan Perancis dan kembali ke Andalusia (Spanyol). Sambil mundur, pasukan Musa ini sempat menduduki kota Avignon, Lyon, dan Autun, Prancis.

Konon, pada masa kekuasaan Islam itu pula lahirnya legenda Dame (Lady) Carcas—yang disebut-sebut sebagai asal nama Carcassonne. Dikisahkan, Lady Carcas adalah istri Ballak, seorang pangeran Muslim yang tewas dalam peperangan melawan Charlemagne. Setelah kematian suaminya, Carcas mengambilalih pertahanan kota melawan tentara Frank.

Pada tahun keenam pengepungan tentara Charlemagne terhadap kota ini, krisis makanan terjadi. Penduduk dengan sukarela menyumbangkan babi dan gandum. Namun karena tentara Islam tidak makan babi, maka Dame Carcas punya ide. Babi dan berkarung-karung gandum itu dibawanya ke atas menara tinggi.

Melihat banyak babi sedang makan gandum, Charlemagne beranggapan, pasukan Carcas masih cukup banyak. Bahkan gandum saja diberikan ke babi. Taktik Lady Carcas berhasil. Charlemagne menarik mundur pasukannya. Rakyat gembira dan membunyikan semua lonceng. Mendengar lonceng itu, anak buah Charlemagne kemudian berseru: Carcas sonne (Carcas berdering)…!

Menurut historiografi, Dame Carcas adalah karakter yang termasuk dalam ordo legendaris. Legenda itu berasal dari lagu-lagu gerakan abad pertengahan, yang dikumpulkan dari tradisi lisan oleh berbagai penulis termasuk Jean Dupre, William Besse, dan Guillaurne Catel. Di Benteng Carcassone, hingga kini patung wajah Dame Carcas ditempelkan di sebelah kiri Gerbang Narbonne.

Benteng Carassonne

Saya di benteng Carcassonne (Château et remparts de Carcassonne) pada September 2013. Benteng terbesar dan hingga kini bertahan di Eropa, sering dijadikan latar belakang film-film Hollywood, bertemakan masa Romawi Kuno, prajurit berbaju besi. Film Robin Hood: Prince of Thieves dibuat dengan latar belakang Carcassonne pada 1991.

Benteng Carcassonne sangat megah, kokoh, dan membawa pengunjung seperti berada di Abad Pertengahan. Berdiri di atas puncak bukit di tepi timur Sungai Aude, Carcassonne terlihat dari kejauhan. Suku Kelt mendirikan kastil ini sekitar 500-an sebelum Masehi (SM). Ketika Romawi menaklukan Galia pada 100-an SM, benteng ini diperbarui dan lebih kuat.

Pasukan Visigoth pada 453 M menaklukkan Carcassone. Ketika Bani Umayyah mengalahkan Visigoth pada awal 700-an M, mereka juga menguasai Carcassonne, namun raja suku Franka, Pippin, merebutnya pada 759 M. Benteng ini kemudian berganti-ganti kekuasaan. Pada 1209 M, Prancis menggunakan Carcassonne sebagai benteng utama mempertahankan perbatasan dengan Spanyol. Mereka membangun tembok tambahan untuk memperkuatnya.

Memasuki kawasan ini dari sisi timur, pengunjung bertemu dengan rumah-rumah penduduk, cafe-cafe, hotel, dan toko-toko souvenir. Jalan-jalannya kecil, berkelok, mendaki, dan berbatu. Rumah-rumah dan cafe ini bergaya Gothik. Setelah melewati kota kecil itu, ada pintu gerbang kayu dengan tembok sekelilingnya. Gerbang ini bernama Narbonne.

Di gerbang tebal dan berpintu kayu ini ada dua menara kembar tinggi sekitar 25 meter. Gerbang ini dibangun periode Visigoth, diperkuat oleh Raja Louis IX pada 1250 dan oleh Philip lll Bold pada 1280. Dua menara kembar tinggi dirancang untuk membelokkan peluru meriam penyerang.

Setelah melewati gerbang Narbonne, ada jembatan yang bagian bawahnya parit lebar dan dalam. Jembatan tanpa air ini didesain untuk memaksa pasukan lawan yang berhasil melewati gerbang Narbonne, berjalan sejajar mengikuti alur jembatan, sehingga mereka lebih mudah diserang.

Dari jembatan, kita masuk ke benteng utama, yang disebut Château Comtal de Carcassonne (Count’s Castle). Dalam benteng, terdapat halaman yang ditumbuhi beberapa pohon. Halaman ini ruang sirkulasi udara. Di sisi dan kanan terdapat kamar-kamar dengan ruangan. Bagian dalam berarsiteltur gotik itu kini digunakan sebagai galeri seni berbaga era.

Ada tangga menuju ke lantai atas. Saya naik dan dari sini terhampar pemandangan sekitar benteng, hamparan rumput dan gunung Pyreneses. Di sebelah selatan, Basilika Saint-Nazaire. Gereja Katolik Roma ini berada dalam tradisi arsitektur Gotik-Romawi. Gereja asli diperkirakan dibangun pada abad ke-6 pada masa pemerintahan Theodoric the Great, penguasa Visigoth. Di sini, selain patung Maria, juga Joan of Arc.

Lelah keliling benteng Carcassonne — yang dinobatkan Unesco sebagai Situs Warisan Dua pada 1997 — saya duduk di bawah pohon besar, di luar benteng, tidak jauh dari jalan Rue Porte d’Aude. Ditiup angin semilir, saya membayangkan awal 700-an, ketika panglima Musa bin Nushair dalam Kekhalifahan Umayyah mengalahkan Visigoth dan menguasai Carcassonne.

Setelah makan siang di cafe, kami pun pulang ke Tolouse. Carassonne tinggal kenangan. (Asro Kamal Rokan)