Naik Kereta Api dari Davos ke Zurich

Naik Kereta Api dari Davos ke Zurich

20 November 2020 0 By admin

CaTatan Asro Kamal Rokan

BERSELIMUT SALJU — Sepanjang jalan dari Zurich menuju Davos, Sawiss, jalan diselimuti sajlu. (Foto Asro Kamal Rokan)

KOTA ZURICH masih gelap ketika bus bergerak menuju Davos. Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 05.45. Bus berjalan pelan, menanjak, dan berkelok-kelok melewati hamparan padang salju di kiri kanan jalan. Pohon-pohon digayuti salju, rumah-rumah beratap salju. Suhu diperkirakan minus 20 derajat Celsius dan ketebalan salju sekitar 50 cm.

Tiga jam perjalanan, kami tiba di Davos. Overcoat, jas, baju, kaus dalam, sarung tangan kulit, tidak mampu menahan dingin, bahkan salju terasa menembus sepatu. Beberapa kali saya hampir terpeleset. Dingin dan menggigil.

Davos, Swiss, merupakan kota tertinggi di Eropa, sekitar 1.560 m. Kota wisata ini terletak di bagian timur Swiss, di Pegunungan Alpen timur Bagian Tengah. Alpen menjulur melewati Swiss, Austria, Slovenia, Italia, Jerman, hingga Perancis bagian barat. Puncak tertinggi Alpen bernama Mont Blanc di perbatasan Prancis-Italia, berketinggian 4.808 meter.

Lebih separo bagian Swiss adalah pegunungan. Puncak tertinggi di Dufour, sekitar 4.634 meter. Dari sekitar seratus puncak pegunungan Alpen di Swiss, berada dalam garis salju. Inilah yang menjadikan Davos, yang berada di Kanton Graubunden, sebagai tempat wisata gunung, bermain ski terkemuka di dunia. Hotel, restoran, dan resort ski bertebaran di sini. Berbagai kejuaraan internasional dan rekor-rekor dunia ski pecah di sini sejak 1898.

SALJU DAVOS — Gunung dan perumahan penduduk sepaanjang jalan menuju Davos diselimuti salju. (Foto Asro Kamal Rokan)

Kota berpenduduk 13 ribu orang dan sepi ini, setiap awal tahun menjadi pusat perhatian dunia. Lebih dari 10 ribu orang dari berbagai negara datang ke sini. Para pemimpin terkemuka dunia dan dunia usaha, tokoh-tokoh pers, dan juga pesohor, berkumpul di kota ini menghadiri World Economic Forum (WEF) —forum paling bergengsi. Peserta mendiskusikan berbagai masalah ekonomi dunia.

Saya di Davos meliput Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pembicara utama pada hari kedua WEF, 28 Januari 2011 di Plenary Hall Kongres Zentrum. Tema yang diangkat, “How Can Sustainable Development Become a Driver of Inclusive Growth.”

Dipandu Profesor Klaus Schwab, Ketua Eksekutif dan Pendiri WEF, Presiden Yudhoyono di hadapan ahli ekonomi, pengusaha internasional, dan para pemimpin dunia — mengawali pidatonya dengan Basmalah — selanjutnya, dalam bahasa Inggris. Presiden memaparkan perekonomian RI di atas 6 persen, di saat negara lain mengalami penurunan. Presiden juga mengangkat program pembangunan ekonomi yang berkeadilan.

Pada WEF tiga tahun berikutnya, 22 Januari 2014, Profesor Klaus Schwab mengundang kembali Presiden Yudhoyono ke Davos untuk menerima penghargaan Global Statesmanship Award atas sejumlah capaian ekonomi dan pembanguan Indonesia. Presiden tidak dapat hadir karena kesibukan dalam negeri. Selain Presiden Yudhoyono, penghargaan juga diberikan kepada Presiden Brasil Lula da Silva dan Presiden Meksiko Felipe Calderón.

Matahari mulai menyapa Davos, Swiss. (Foto Asro Kamal Rokan)

Pulang ke Zurich

Hari kedua, acara masih padat, tapi sore kami harus kembali ke Zurich, ke Hotel Movenpik, dekat bandar udara Zurich Flughafen. Seperti ketika datang naik bus, pulang juga naik bus yang sama. Namun, saya dan J Osdar, wartawan senior Kompas, memilih naik kereta api. Ingin merasakan suasana yang berbeda.

Staf kedutaan RI mengantarkan kami ke stasiun kerata api Davos Platz. Kami memilih kereta jalur Davos Platz-Zurich Flughafen lewat Lanquart. Tiket kelas utama untuk kereta jalur ini 175 CHF (Rp 1,3 juta) dan kelas dua 110 CHF (sekitar Rp 1 juta). Kami memilih kelas ekonomi seharga 56 CHF atau sekitar Rp 450.000.

Tidak terlalu banyak penumpang di gerbong nomor lima kereta api listrik ini, sekitar dua puluh orang, di antaranya dua pasangan berusia lanjut, yang terlihat sangat mesra. Kereta api — yang disebut-sebut melewati rute tertinggi di  Eropa — sangat bersih. Kursi saling berhadapan dan tidak nyaman dan kontras dengan udara di luar kereta api, menggigil dan beku.

Stasiun Davos Platz kami tinggalkan. Saya duduk dekat jendela, mempersiapkan diri menikmati keindahan. Kereta bergerak melewati celah-celah pegunungan, terowongan, pepohonan pinus digelayuti salju, melewati perkampung-perkampungan. Rumah-rumah beratap salju, dan lembah-lembah di kaki gunung bersalju

Lagu-lagu romantis Chrisye, Demis Roussos, dan Engelbert Humperdinck, bergantian memasuki ruang telinga saya melalui headphone ke telepon seluler.

Di beberapa tempat, jalur kereta api sejajar dengan jalan raya. Mobil dan bus berlarian di belakang dan hilang di tikungan. Mata tidak pernah lelah memandang dari jendela, seperti bayi mengamati mainan baru. Dan, ini salah satu pesonanya: Danau Davos.

Danau berair jernih ini berada di bawah lereng gunung bersalju. Pohon-pohon dan rumputan hijau terlihat di sisinya. Ini pemandangan sangat indah — mengingatkan saya pada foto-foto kalender semasa remaja.

MELIPUT — Saya meliput World Economic Forum (WEF), forum bergengsi setiap tahun di Davos, Swiss. (Foto Asro Kamal Rokan)

Saya membayangkan berada di tepi danau sambil melihat panorama dan puncak Alpen yang dingin. Tapi kereta api berjalan cepat, dan danau pelan-pelan tinggal di belakang. Mungkin pada suatu saat akan berada di sini.

Danau Davos satu di antara ratusan danau di Swiss. Danau-danau tersebut terbentuk secara alamiah karena proses glister. Hampir sebagian besar kota-kota di Swiss, termasuk Geneva, Zurich, dan Lucerne, terdapat danau. Di Geneve, danau berada di tengah kota. Swiss mengelola danau-danau tersebut menjadi tempat wisata.

Setelah menikmati pemandangan indah sekitar tiga jam perjalanan, pukul 15.00 sore, kereta api tiba di Zurich Hauptbahnhof — stasiun utama di Zurich — sebelumnya berganti kereta api di Landquart. Di Zurich Hauptbahnhof, yang padat jalur kereta api, tersedia waktu sekitar sepuluh menit untuk mencari dan berpindah kereta api lain menuju bandar udara, Zurich Flughafen. Kami sampai di Hotel Movenpik.

Davos yang indah telah berlalu. Salju yang terbentang seluas mata memandang, telah berpindah ke kamera dan dalam kenangan. Tapi berita ini cukup mengkhawatirkan. Kantor Berita Reuters melaporkan, pada 2050 mendatang, es di Pegunungan Alpen akan habis mencair, dan akan menimbulkan kerugian yang sulit diduga pada seluruh daratan Eropa, termasuk Davos.

Penyebabnya, menurut Rolland Phursenna dari Institut Geologi Universitas Austria, pemanasan global. Dari hasil penelitian, gletser di atas Pegunungan Alpen yang berada di Provinsi Alps, Austria telah menyusut dalam skala kurang lebih 3% setiap tahunnya. Ketebalannya juga berkurang hingga sekitar satu meter dari ketebalan rata-rata gletser Alpen saat ini 30 meter.

Jika peristiwa itu terjadi pada 2050, salju Alpen dan Davos yang indah, akan menjadi kenangan dari lembaran foto-foto.