Bang Iwan Uyun Juga Pergi ..

Bang Iwan Uyun Juga Pergi ..

15 Januari 2021 0 By admin

Catatan Asro Kamal Rokan

INNA lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selesai sholat Subuh, kabar duka itu datang. Telah wafat Iwan Uyun, Jumat (15/01/21) pukul 04.48. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu — Ya Allah, berilah keampunan, rahmat, maafkanlah kesalahannya.

Wafatnya Bang Iwan — begitu kami menyapa Yazirwan Uyun — menambah panjang kesedihan dalam beberapa bulan terakhir ini. Satu-satu, sahabat, ulama, kenalan, tokoh-tokoh, wafat. Ibarat biji tasbih yang lepas satu-satu dari benangnya. Ibarat daun-daun di musim gugur, satu-satu rebah ke bumi. Mereka menemui Rabb-nya.

Bang Iwan berniat menulis buku pengalaman selama mengikuti kunjungan Presiden Soeharto ke sejumlah negara. Ini tentu pengalaman sangat bernilai. Buku tersebut tidak pernah ada hingga Bang Iwan pergi..

Sehari sebelumnya, kita berduka atas wafatnya ulama besar Syekh Ali Jaber. Sebelumnya, juga wafat sahabat wartawan Alfian Mujani, juga sahabat Roy BB Janis, puluhan penumpang Sriwijaya Air, dan beberapa lainnya. Kabar duka silih berganti. Malaikat Izrail datang dari banyak pintu. Setiap kita, menunggu kunjungan berikutnya.

Kepala Ikan


BANG Iwan telah pergi, setelah dirawat beberapa hari di RS Bintaro. Pekan lalu, kami mendapat kabar Bang Iwan positif Covid-19. Kabar gembira muncul setelah itu, Bang Iwan negatif. Tidak lama, muncul lagi kabar yang menyebutkan Bang Iwan jatuh dan koma. Dan, Ya Allah tadi subuh Bang Iwan wafat.

Nama Bang Iwan sudah dikenal publik pada pertengahan 80-an melalui layar TVRI, membacakan berita. Bang Iwan bergabung dengan TVRI pada 1982, dari reporter, produser berita, dan kemudian menjadi Direktur Utama TVRI pada 2004. Setelah itu, Bang Iwan menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selama dua periode.

Secara intensif, saya dekat dengan Bang Iwan dalam sepuluh tahun terakhir. Bang Iwan mengajak saya bergabung sebagai komisaris di PT Anpa International. Bang Iwan sebagai Direktur Utama pada anak perusahan PT Barito Pacific Tbk tersebut.

Semasa saya aktif di Anpa, setiap kali kami usai rapat, tersedia makanan dengan menu utama kepala ikan kakap. Bang Iwan penggemar kepala ikan. Dia selalu meminta Djulia dan Henky — keduanya direksi PT Anpa — untuk mencari restoran yang menyediakan kepala ikan, juga ketika buka puasa bersama.

Silaturahim kami tetap terpelihara meski ┬átugas saya selesai. Beberapa bulan lalu, Bang Iwan mengajak kami — Max Sapocoa, Hamdhani Masil, dan saya — membahas rencana membuat kanal televisi. Rencana sebelum pandemi Covid-19 ini belum terwujud.

Ketika saya menerbitkan buku catatan perjalanan Lima Benua, Bang Iwan juga berniat menulis buku pengalaman selama mengikuti kunjungan Presiden Soeharto ke sejumlah negara. Ini tentu pengalaman sangat bernilai. Buku tersebut tidak pernah ada hingga Bang Iwan pergi..

Bang Iwan dilahirkan di Bukittinggi, Sumatra Barat, 2 Oktober 1954. Bagi kami — dan saya yakin juga para direksi dan sahabat — Bang Iwan tidak saja seorang pemimpin, tapi juga seorang abang. Kebaikan, kesantunan, dan kepeduliannya pada setiap orang, menjadi kenangan indah, sangat istimewa.

Ketika para sahabat pagi tadi bergabung dalam zoom — yang dipimpin Tya Maryadi — hampir semua menyatakan sama. Bang Iwan sangat baik dan peduli. Abang bagi adik-adiknya, sahabat semua orang. Ya Allah, semoga ini menjadi amal jariah baginya, yang terus mengalir, mengantarkannya ke Jannatun Na’im.

Bang Iwan telah pergi selamanya. Satu-satu sahabat pergi menemui Allah Yang Maha Pencipta. Kematian soal waktu dan itu pasti. Setiap makhluk menunggu waktu Malaikat Izrail tiba — yang datang dari banyak sekali pintu yang terbuka.

Ya Allah, lapangkan jalan Bang Iwan menuju Jannatun Na’im. Aamiin ya rabbal ‘alamin…

Jakarta, 15 Januari 2021.