Lidah Komodo dapat Mendeteksi Bau Daging Sejauh Sembilan Meter

Lidah Komodo dapat Mendeteksi Bau Daging Sejauh Sembilan Meter

16 Desember 2020 0 By admin

 

Komodo berebut makanan

Komodo berebut makanan. (Foto AKR)

Catatan Asro Kamal Rokan

 

KADAL RAKSASA ini menakutkan. Panjangnya sekitar tiga meter dengan berat sekitar l00 kg. Ketika berjalan, komodo terkesan lamban. Hati-hati, hewan kuno ini meski tidak bisa lari zig-zag, namun dapat lari dengan kecepatan 20 km per jam.

Reputasinya mengerikan. Meski lubang hidungnya hanya berfungsi untuk bernafas, bukan mencium bau. Namun dengan bantuan angin, lidah komodo — yang berfungsi sebagai radar — mengetahui daging atau bangkai sejauh sembilan meter. Lidah komodo — panjang, kecokelatan dan bercabang — dapat menangkap partikel bau di udara, kemudian menyimpannya di langit-langit mulutnya untuk menganalisa bau bangkai atau daging.

Komodo — satu-satunya kadal besar yang hidup di pulau ini — mampu melihat hingga sejauh 300 m pada siang hari. Air liurnya beracun, seperti ular

Mungkin itu juga alasan, sebelum berkunjung ke Pulau Komodo, selalu diingatkan kepada perempuan yang sedang datang bulan, untuk tidak berkunjung ke pulau di Nusa Tenggara Timur ini.

Reputasi lainnya, komodo — satu-satunya kadal besar yang hidup di pulau ini — mampu melihat hingga sejauh 300 m pada siang hari. Kemudian, air liurnya beracun, seperti ular. Ada yang menyebutkan, belum ada penangkal racun air liur komodo. Meski memiliki lubang telinga, namun komodo tidak memiliki indera pendengaran.

Saya beruntung dapat menyaksikan komodo. Jumat (13 September 2013), rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi pulau ini untuk menandatangani prasasti Taman Nasional Komodo, pengoperasian Kantor Pelayanan Bersama, dan menyaksikan penyerahan plakat Taman Nasional Komodo sebagai The New 7 Wonder of Nature dari Jusuf Kalla.

Dua ekor rusa bermain di Pantai Komodo. (Foto AKR)

Dari Labuan Bajo, rombongan naik KRI Beladu 643, membelah Selat Sape sekitar satu jam dengan jarak sekitar 50km, menuju Pulau Komodo, melewati berbagai pulau-pulau kecil. Pemandangan indah.

Rombongan tiba di dermaga Loh Liang. Pulau Komodo. Pasir kemerahan membentang di pantai. Indah, namun tersa misterius. Sedikit berjalan melewati jalan kecil, di kiri kanan hutan — khawatir tiba-tiba komodo menyergap — rombongan tiba di pusat kegiatan. Ada panggung setinggi satu meter untuk para undangan menyaksikan atraksi komodo.

Di sini, di sebuah lapangan dengan pepohonan besar,  ada sekitar sepuluh ekor komodo dengan beberapa pawang yang membawa kayu bercabang. Pawang ini mengarahkan komodo agar tidak keluar arena. Seekor kambing yang telah mati digantungkan di sebuah pohon. Komodo-komodo dengan ganas menyantapnya. Kami mengambil posisi agak jauh.

Di Pulau Komodo ini diperkirakan ada sekitar 1.300 komodo, selain di Pulau Rinca, Pulau Padar, dan dan Gili Motang. Komodo konon ditemui tentara Belanda, Letnan Steyn van Hens Broek pada 1910. Seekor komodo yang dibunuh, dibawa ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.

Pulau karang di sekitar Pulau Komodo/ (Foto AKR)

Manusia dan Komodo Berdampingan

Sejak dahulu, pulau Komodo dihuni masyarakat dari suku Bugis, Bima, dan Bajo. Jumlah mereka tidak diketahui persis, ada yang menyebut sekitar dua ribu orang. Mereka umumnya nelayan. Di pulau ini, manusia dan komodo dapat hidup berdampingan, meski kadangkala manusia korban serangan komodo.
Serangan komodo ke perkampungan, biasanya jika berkurangnya makanan mereka atau karena ekosistem mereka terancam. Komodo turun ke perkampungan apabila mereka mencium bau anyir atau  mengejar kambing, yang dekat dengan habitat mereka.

Warga perkampungan komodo mempercayai legenda bahwa awalnya mereka bersaudaa kembar, satu berwujud manusia, satu lagi  berwujud komodo. Bahkan, komodo diyakini mengetahui bahasa manusia. Jika komodo datang, mereka berteriak moke mai (jangan datang) atau moke waki ahu (jangan gigit aku). Mendengar itu, komodo pergi.

Pada 1915, pulau ini berada dalam Kesultanan Bima. Di sini, ada satu masjid raya dan dua musolah. Mereka menjalani kehidupan normal. Selain bertani dan nelayan, di antara mereka juga menjual souvenir khas pulau Komodo.

Peradaban suku Komodo sudah ada sejak lama. Hasil penelitian etnografik, J.A.J. Verheijen, dalam bukunya Pulau Komodo Tanah, Rakyat, & Bahasanya ( 1987) terbitan Balai Pustaka, memperkirakan penduduk asli sudah mendiami pulau ini sekitar 2.000 tahun lalu. Mereka disebut suku Ata Modo, yang mendiami pulau Komodo yang disebut Tana Modo dan berkomunikasi dalam bahasa Wana Modo.

DERMAGA Loh Liang, tempat penyeberangan ke Pulau Komodo. (Foto AKR)

Verheijen hidup bersama Ata Modo yang terpencar-pencar. Di sini, dia menemukan 69 rumah di Desa Komodo, 7  rumah terletak di Dusun Nggaro dan  lagi empat rumah lainnya lagi di tengah kebun-kebun. Sehari-hari mereka menangkap ikan secara individual atau berkelompok, mengumpulkan ganggang, memetik asam pada musim tertentu dan bertani.

Dari sejumlah kosa kata yang digunakan penduduk, Verheijen mencatat mirip dengan bahasa Manggarai, di antaranya lodoq, lance, cicing, rana, lokang, dan komoso.

Pada 1980, pemerintah pusat menetapkan Taman Nasional Komodo (TNK). Selama ini, kehidupan mereka berjalan normal. Namun tahun lalu, 2019, mereka mulai terusik. Gubernur NTT, Viktor Laiskodat merencanakan mengosongkan pulau tersebut dengan merelokasi warga ke pulau lain. Pulau Komodo akan dijadikan kawasan wisata ekslusif dengan tiket masuk sekitar 500 dolar AS.

“Kami juga mau agar tidak ada manusia yang tinggal di Pulau Komodo. Mereka yang sekarang tinggal di sana akan kami pindahkan ke Pulau Rinca atau Pulau Padar,” kata Laiskodat, seperti diberitakan Kompas.com (22/05/2019).

Kontroversi semakin kuat ketika Gubernur Laiskodat mengatakan masyarakat Pulau Komodo tidak memiliki hak kepemilikan lahan yang mereka tempati selama ini. “Mereka tidak memiliki hak kepemilikan lahan seperti hak warga negara lain. Mereka tidak memiliki sertifikat hak milik atas lahan di Pulau Komodo,” kata  Laiskodat menjawab Antara di Kupang, Minggu, 11 Agustus 2019.

Pernyataan itu disesalkan Direktur Walhi NTT, Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi. Menurutnya, sebelum penetapan TNK, Pulau Komodo merupakan hak ulayat masyarakat setempat.

“Setelah ditetapkan sebagai TNK, masyarakat yang menetap di Pulau Komodo dianggap sebagai penduduk liar. Ini tdak dapat dibenarkan. Masyarakat yang hidup di Pulau Komodo tentu tidak memiliki hak milik atas tanah, sebab Pulau Komodo telah ditetapkan sebagai TNK,” ujar Umbu, seperti dikutip Liputan 6 SCTV, 12 Agustus 2019.

Belum jelas keputusan rencana relokasi penduduk Pulau Komodo.