Awalnya Hobi, Berikutnya Produksi Tas Kulit Asli

Awalnya Hobi, Berikutnya Produksi Tas Kulit Asli

20 November 2020 0 By admin

Catatan Asro Kamal Rokan

TIDAK jarang, ketika berpegian, saya memerlukan tas selempang (sling bag) atau ransel untuk kabin pesawat. Membeli tas menjadi kebiasaan. Suatu kali, 2016, muncul pikiran mengapa tidak dibuat sendiri saja, didesain sendiri sesuai dengan keinginan?

Dari sinilah muncul ide membuat tas berbahan kulit sapi. Timbul persoalan, dari mana mendapatkan kulit sapi, juga peralatan pembuatan tas. Ini dunia yang tidak pernah dimasuki. Belum lagi soal mencari penjahit tas — yang tentu berbeda dengan penjahit pakaian.

Membeli kulit tidak sama dengan membeli bahan kain. Hitungannya per kaki (feet), bukan per meter. Membelinya harus satu ekor lembaran sapi,

Setiap kamauan akan ada jalan. Dari berbagai informasi, saya mendapatkan dua orang penjahit. Dari sini pula diperoleh informasi perlatan yang harus diadakan. Mesin jahit tenyata tidak satu. Beda dengan penjahit pakaian. Harus ada mesin khusus jahit kulit (walking foot), mesin jahit biasa, mesin cangklong, dan mesin seset kulit. Empat mesin ini mutlak ada.

Alhamdulillah, mesin-mesin tersebut — baru maupun bekas — banyak di temukan di Jembatan Lima, Kota, juga ada di Tanah Abang, dan online. Selasai. Lalu, dimana mencari kulit. Ternyata, tanpa saya ketahui, banyak penjual kulit tas di Jabodetabek. Kulit-kulit tersebut sudah diberi corak dan berbagai warna. Ada produk dalam negeri, eks Italia, China, juga India.

TAS GOLF — Tas golf buatan Tizaro, seluruhnya kulit sap. (Foto AKR)

Membeli kulit tidak sama dengan membeli bahan kain. Hitungannya per kaki (feet), bukan per meter. Tidak bisa pula dibeli, misalnya, lima kaki sesuai yang diperlukan. Pembelian harus satu lembaran sapi, sekitar 25 sampai 40 feet. Bayangkan, untuk satu tas yang terkadang hanya memerlukan 8 atau 10 feet, kulit yang harus dibeli kulit seekor sapi.

Inilah salah satu faktor mahalnya tas kulit. Belum lagi harus di kerjakan ekstra hati-hati. Sebab, jika jahitan miring, tidak bisa diperbaiki. Bekas jarum jahitan tak dapat ditutup. Ya, harus dibuang. Perlengkapan membuat tas juga tidak sedikit. Harus ada busa pelapis agar mudah membentuk kulit, lem khusus, sumbu kompor untuk membentuk pegangan tas perempuan, resleting, berbagai macam aksesoris, benang khusus, dan juga jarum khusus.

Problem lain adalah jasa penjahit. Umumnya yang berlaku, jas penjahit tas dihitung per hari dengan nilai yang disepakati. Setiap Sabtu, jasa mereka harus dibayar — ada atau tidak produksi.

Kini, semua lengkap. Ada penjahit, peralatan, dan kulit sapi. Saya coba mendesain sendiri, tentu dengan melihat tas-tas merek ternama yang dimodifikasi. Ini juga tidak mudah. Selain soal ukuran, juga kelenturan kulit. Jika keliru memberi pelapis, kulit menjadi kaku.

Niat harus diwujudkan. Pada awalnya, beberapa produksi gagal. Uang terbuang. Hari ke hari, proses produksi menjadi lebih baik. Saya mulai mengajukan penawaran ke berbagai instansi dan perorangan. Alhamdulillah lancar. Badan hukum dibuat untuk mengajukan penawaran. Pesanan datang dari berbagai perusahaan swasta dan BUMN. Biasanya, mereka memesan logo sesuai nama perusahaannya.

Tas ransel kulit sapi produksi Tizaro. (Foto Asro Kamal Rokan)

Meningkatnya pemesanan dengan waktu yang terbatas, menyebabkan penjahit tidak mampu menyelesaikannya. Jika menambah penjahit, ongkos membengkak. Pilihan yang rasional, membagi pekerjaan ke para penahit tas di Bogor. Di sini, ada perkampungan yang sebagoan warganya menjahit tas. Mereka pekerja rumah. Jumlahnya ada puluhan orang. Kita tinggal beri contoh, bahan, kain dalam tas, aksesoris, resleting, dan busa. Beri tanggat waktu.

Tas produksi saya berlabel Tizaro telah bertahan selama lima tahun. Namun krisis yang menimpa, semakin mahalnya bahan baku, dan anggaran pengadaan perusahaan serta institusi yang banyak dipangkas karena krisis, mengakibatkan produksi dikurangi sementara.

Begitulah..

 

https://www.facebook.com/akaro21